Senin, 29 Oktober 2012

Model-model Pengembangan Kurikulum


Pengembangan kurikulum tidak dapat lepas dari berbagai aspek yang mempengaruhinya, sperti cara berpikir, system nilai (nilai moral, keagamaan, politik, budaya, dan social), proses  pengembangan, kebutuhan peserta didik, kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan. Model pengembangan kurikulum merupakan suatu alternative prosedur dalam rangka mendesain (designing), menerapkan (implementation), dan mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses system perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan dalam pendidikan.
Dalam pengembangan kurikulum dapat diidentifikasi berdasarkan basis apa yang akan dicapai dalam kurikulum tersebut, seperti alternative yang menekankan pada kebutuhan mata pelajaran, peserta didik, penguasaan kompetensi suatu pekerjaan, kebutuhan masyarakat, atau permasalahan social. Oleh karena itu pengemangan kurikulum perlu dilakukan berlandaskan teori yang tepat agar kurukulum yang dihasilkan bisa efektive.
Dengan memahami esensi model pengembangan kurikulum dan sejumlah alternatif model pengembangan kurikulum, para pengembang kurikulum diharapkan akan bisa bekerja secara lebih sistematis, sistemik dan optimal. Sehingga harapan ideal terwujudnya suatu kurikulum yang akomodatif dengan berbagai kepentingan, teori dan praktik bisa diwujudkan. Sehubungan dengan hal tersebut, dalam bab ini akan diuraikan berbagai model pengembangan kurikulum.

1.      Model Ralph Tyler
Model pengembangan kurikulum yang dikemukakan Tyler diajukan berdasarkan pada beberapa pertanyaan yang mengarah pada langkah-langkah dalam pengembangan kurikulum. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah :
1.      Tujuan pendidikan apa yang harus dicapai oleh sekolah?
2.      Pengalaman-pengalaman apakah yang semestinya diberikan untuk mencapai tujuan pendidikan?
3.      Bagaimanakah pengalaman-pengalaman pendidikan sebaiknya diorganisasikan?
4.      Bagaimanakah menentukan bahwa tujuan telah tercapai?
Oleh karena itu, menurut Tyler ada 4 tahap yang harus dilakukan dalam pengembangan kurikulum  yang meliputi :
1.      Menentukan tujuan pendidikan.
2.      Menentukan proses pembelajaran yang harus dilakukan.
3.      Menentukan organisasi pengalaman belajar.
4.      Menentukan evaluasi pembelajaran.

Berikut ini penjelasan setiap tahapan model pengembangan kurikulum Tyler :
1.      Menentukan Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan merupakan arah atau sasaran yang harus dicapai dalam program pendidikan dan pembelajaran. Ada tiga aspek yang harus dipertimbangkan sebagai sumber dalam penentuan tjuan pendidikan menurut Tyler yaitu : a) Hakikat peserta didik. b) Kehidupan masyarakat masa kini dan c) Pandangan para ahli bidang studi. Selanjutnya difilter oleh nilai-nilai filosofis masyarakat dan nilai filosofis pendidikan serta psikologi belajar.
Ada liam faktor yang menjadi arah penentuan tujuan pendidikan, yaitu : pengembangan kemampuan berpikir, membantu memperoleh informasi, pengembangan sikap kemasyarakatan, pengembangan minat peserta didik dan pengembangan sikap social.

2.        Menentukan Proses Pembelajaran
Salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam penentuan proses pembelajaran adalah persepsi dan latar belakang kemampuan peserta didik. Artinya, pengalaman yang sudah diperoleh siswa harus menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan proses pembelajaran selanjutnya.


3.      Menetukan Proses Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar harus mencakup tahapan-tahapan balajar dan isi atau materi pembelajaran. Pengalaman harus diorganisasikan sedemikian rupa sehingga dapat memudahkan dalam pencapaian tujuan.

4.      Menentuakn Evaluasi Pembelajaran
Jenis penilaian yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis dan sifat dari tujuan pendidikan atau pembelajaran, materi pembelajaran, dan proses pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

2.      Model Administratif
Pengembangan kurikulum model ini juga disebut dengan istilah dari atas ke bawah (top down), artinya pengembangan kurikulum ini merupakan ide awal dan pelaksanaannya dimulai dari para pejabat tingkat atas pembuat keputusan dan bijakan berkaitan dengan pengembangan kurikulum. Langkah kedua adalah membuat suatu tim panitia pelaksana atau komisi untuk mengembangkan kurikulum yang didukung oleh beberapa anggota yang terdiri dari para ahli, yaitu : ahli pendidikan, kurikulum, disiplin ilmu, tokoh masyarakat, tim pelaksana pendidikan, dan pihak dunia kerja.
Tim ini bertugas untuk mengembangkan konsep-konsep umum, landasan, rujukan, maupun strategi pengembangan kurikulum yang selanjutnya menyusun kurikulum secara operasional berkaitan dengan pengembangan atau perumusan tujuan pendidikan maupun pembelajaran, pemilihan dan penyusunan rambu-rambu dan substansi materi pelajaran, menyusun alternative proses pembelajaran, dan menentukan penilaian pembelajaran.
Selanjutnya kurikulum yang sudah disusun kemudian diajukan untuk diperiksa dan diperbaiki oleh tim pengarah. Tim ini melakukan penyesuaian antara aspek-aspek kurikulum secara terkoordinasi dan menyiapkan secara system dalam rangka uji coba maupun dalam rangka sosialisasi dan penyebarluasan. Setelah perbaikan, kurikulum tersebut perlu diujicobakan secara nyata dibeberapa sekolah yang dianggap representative. Pelaksana uji coba adalah tenaga professional sebagai pelaksana lapangan, yaitu kepala sekolah dan guru-guru yang tidak dilibatkan dalam penyusunan kurikulum.
Supaya uji tersebut mengahasilkan masukan yang efektive maka diperlukan kegiatan monitoring dan evaluasi yang fungsinya untuk memperbaiki atau yang menyempurnakan berdasarkan pelaksanaan di lapangan. Kurikulum ini merupakan kurikulum yang bentuknya seragam dan bersifat sentralistik, sehingga kurang sesuia jika diterapkan dalam dunia pendidikan yang menganut desentralisasi. Selain dari pada itu, kurikulum ini kurang tanggap terhadaop perubahan nyata yang dihadapi para pelaksana kurikulum di lapangan. Perubahan lebih cenderung dilakukan berdasarkan pola pikir pihak atasan pendidikan.

3.      Model Grass Roots
Pengembangan kurikulum model ini merupakan kebalikan dari model administratif.Model Grass Roots merupakan model pengembangan kurikulum yang dimulai dari arus bawah atau dari bawah ke atas.Model  ini diberi nama Grass Roots karena inisiatif dan gagasan pengembangan kurikulum datang dari seorang guru atau sekelompok guru disuatu sekolah. Model Grass Roots lebih demokratis karena pengembangan dilakukan oleh para pelaksana di lapangan, sehingga perbaikan dan peningkatan dapat dimulai dari unit-unit terkecil dan spesifik menuju bagian yang lebih besar. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan model ini yaitu :
1.      Guru harus memiliki kemampuan yang professional
2.      Guru harus terlibat penuh dalam perbaikan kurikulum, penyelesaian kurikulum
3.      Guru harus terlibat langsung dalam perumusan tujuan
4.      Pertemuan kelompok yang dilakukukan guru akan berdampak terhadap pemahaman guru dan akan menghasilkan konsensus tujuan, prinsip, maupun rencana-rencana.
Dalam prosesnya, guru-guru harus mampu melakukan kerja operasional dalam pengembangan kurikulum secara kooperatif sehingga dapat menghasilkan suatu kurikulum yang sistematik.Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya, pengembangan kurikulum model ini sangat membutuhkan dukungan moril maupun materil yang bersifat kondusif dari pihak pimpinan.
4.       Model Demonstrasi
Menurut Smith, Stanley dan Shores, ada dua bentuk model pengembangan ini. Pertama ada beberapa kelebihan model pengembangan ini, yaitu :
Pertama, sekelompok guru dari satu sekolah atau beberapa sekolah yang diorganisasi dan ditunjuk untuk melaksanakan suatu uji coba atau eksperimen suatu kurikulum.Unit ini melakukan suatu proyek melalui kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan suatu model kurikulum.Pengembangan model ini biasanya diprakarsai oleh pihak Departemen Pendidikan dan dilaksanakan oleh kelompok guru dalam rangka inovasi dan perbaikan suatu kurikulum.
Kedua, dari beberapa orang guru yang merasa kurang puas tentang kurikulum yang sudah ada, kemudian mereka mengadakan eksperimen, uji coba, dan mengadakan pengembangan secara mandiri.Pada dasarnya guru melakukan percobaan yang belum pernah ada sebelumnya dan merupakan suatu inovasi terhadap kurikulum. Dengan harapan akan ditemukan pengembangan kurikulum yang lebih baik dari yang telah ada sebelumnya.
Ada beberapa kelebihan dalam penerapan model pengembangan ini, yaitu :
1.      Kurikulum ini akan lebih nyata dan praktis karena dihasilkan melalui proses yang telah diuji dan diteliti secara ilmiah
2.      Perubahan kurikulum dalam skala kecil atau pada aspek yang lebih khusus kemungkinan kecil akan ditolak oleh pihak administrator, akan berbeda dengan perubahan kurikulum yang sangat luas dan kompleks
3.      Hakekat model demonstrasi berskala kecil akan terhindar dari kesenjangan dokumen dan pelaksanaan dilapangan
4.      Model ini akan menggerakan inisiatif, kreativitas guru-guru serta memberdayakan sumber-sumber administrasi untuk memenuhi kebutuhan dan minat guru dalam mengembangkan program baru.

5.      Model Miller-Seller   
Model pengembangan Miller-Seller merupakan pengembangan kurikulum kombinasi dari model transmisi (Gagne) dan model transaksi (Taba’s & Robinson), dengan tahapan pengembangangan sebagai berikut :
1.      Klarifikasi Orientasi Kurikulum 
Orientasi ini merefleksikan pandangan filosofis, psikologis dan sosiologis terhadap kurikulum yang seharusnnya dikembangkan.Menurut Miller Seller ada tiga jenis orientasi kurikulum yaitu transmisi, transaksi dan transformasi.
2.      Pengembangan Tujuan
Langkah berikutnya adalah mengembangkan tujuan umum (aims) dan tujuan khusus berdasarkan orientasi kurikulum yang bersangkutan. Tujuan umum dalam konteks ini adalah merefleksikan pandangan orang (image person) dan pandangan kemasyarakatan.Oleh karena itu perlu dikembangkan tujuan-tujuan yang lebih khusus hingga pada tujuan instruksional.
3.      Identifikasi Model Mengajar
Pada tahap ini pelaksana kurikulum perlu mengidentifikasi srategi mengajar yang akan digunakan yang disesuaikan dengan tujuan dan orientasi kurikulum. Ada beberapa criteria yang harus diperhatikan dalam menentukan model mengajar yang akan digunakan yaitu :
a)      Disesuaikan dengan tujuan umum maupun tujuan khusus.
b)      Strukturnya harus sesuai dengan kenutuhan siswa.
c)      Guru yang menerapkan kurikulum ini harus sudah memahami secara utuh, sudah dilatih, dan mendukung model.
d)     Tersedia sumber-sumber yang esensial dalam pengembangan model.

4.      Implementasi
Implementasi sebaiknya dilaksanakan dengan memperhatikan komponen-komponen program studi, identifikasi sumber, peranan, pengembangan professional, penetapan waktu, komunikasi dan sistem monitoring. Langkah ini merupakan langkah akhir dalam pengembangan kurikulum.Prosedur orientasi yang dibakukan pada umumnya tidak sesuai dengan kurikulum tranformasi, sebaliknya kurikulum transmisi pada umumnya menggunakan teknik-teknik evaluasi berstruktur dalam menilai kesesuaian antara pengalaman-pengalaman, stategi belajar dan tujuan pendidikan.
f. Model Taba ( Inverted Model)
Model Taba merupakan modifikasi dari model Tyler. Taba mempercayai bahwa guru merupakan factor utama dalam usaha pengembangan kurikulum. Menurut Taba, guru harus penuh aktif dalam pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum yang dilakukan guru dan memposisikan guru sebagai innovator dalam pengembangan kurikulum merupakan karakteristik dalam model pengembangan Taba.Dalam pengembangannya, model ini bersifat induktif, berbeda dengan model tradisional yang deduktif. Langkah-langkahnya yaitu :
1.      Mengadakan unit-unit eksperimen bersama dengan guru-guru
Dalam kegiatan ini perlu mempersiapkan (a) perencanaan berdasarkan pada teori-teori kuat, (b) eksperimen harus dilakukan di dalam kelas agar menghasilakan data empiric dan teruji. Unit eksperimen ini harus dirancang melalui tahapan, yaitu :
1)      Mendiagnosis kebutuhan.
2)      Merumuskan tujuan-tujuan khusus.
3)      Memilih isi.
4)      Mengorganisasi isi.
5)      Memilih pengalaman belajar.
6)      Mengevaluasi.
7)      Melihat sekuens dan keseimbangan (Taba, 1962: 347).

2.      Menguji unit eksperimen
Unit yang sudah dihasilkan pada langkah pertama diuji cobakan di kelas-kelas eksperimen pada berbagai situasi dan kondisi belajar.Pengujian dilakukan untuk mengetahui tingkat validitas dan kepraktisan sehingga dapat menghimpun data untuk penyempurnaan.
3.      Mengadakan revisi dan konsolidasi
Perbaikan dan penyempurnaan dilakukan berdasarkan pada pada data yang dihimpun sebelumnya.Dilakukan juga konsolidasi, yaitu penarikan kesimpulan pada hal-hal yang bersifat umum dan konsistensi teori yang digunakan.Produk dari langkah ini adalah berupa teaching learning unit yang telah teruji di lapangan.
4.      Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum (developing a framework)
Apabila kegiatan penyempurnaan dan konsolidasi telah diperoleh sifatnya yang lebih menyeluruh atau berlaku lebih luas, hal itu harus dikaji oleh para ahli kurikulum. Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab : a) apakah lingkup isi telah memadai? b) apakah isi telah tersusun secara logis? c) apakah pembelajaran telah memberikan peluang terhadap pengembangan intelektual, keterampilan, dan sikap? d) dan apakah konsep dasar sudah terakomodasi. 
5.      Implementasi dan desiminasi
Penerapan dan penyebarluasan program kedaerahan dan sekolah-sekolah dan dilakukan pendataan tentang kesulitan serta permaslahan yan dihadapi guru-guru dilapangan.Oleh karena itu perlu diperhatikan tentang persiapan di lapangan yang berkaitan dengan aspek-aspek penerpan kurikulum.

g. Model Beauchamp
Dikembangkan oleh George A. Beauchamp, seorang ahli kurikulum. Menurut Beauchamp (1931) proses pengembangan kurikulum meliputi lima tahap, yaitu:
1)      Menentukan arena atau wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum. Atau pada wilayah manakah kurikulum itu akan diterapkan, satu sekolah, satu kecamatan, satu kabupaten, satu provinsi, atau secara nasional. Penentuan tahapan ini ditentukan pemegang wewenang yang dimiliki pengambil kebijakan dibidang kurikulum.
2)      Menetapkan personalia. Tahap ini menetukan siapa saja orang yang akan terlibat dalam pengembangan kurikulum. Ada empat kategori orang yang sebaiknya dilibatkan, yaitu: (a) para ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kurikulum dan ahli bidang studi; (b) para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih; (c) masyarakat prfesional dalam bidang pendidikan; (d) profesional lain dan tokoh masyarakat.
3)      Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Langkah ini berkenaan dengan prosedur dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, serta kegiatan evaluasi, juga dalam menentukan desain kurikulum secara keseluruhan.
4)      Implementasi kurikulum. Yaitu pelaksanaan kurikulum yang telah dikembangkan oleh tim pengembang
5)      Evaluasi kurikulum. Hal-hal penting yang perlu dievaluasi yaitu: (a) pelaksanaan kurikullum oleh guru-guru, (b) desain kurikulum, (c) hasil belajar siswa, (d) keseluruhan dari sistem kurikulum.


2. Organisasi kurikulum
Ada beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam organisasi kuikulum diantaranya berkaitan dengan ruang lingkup (scope), urutan bahan (sequence), kontinuitas, keseimbangan, dan keterpaduan (integrated).
Ruang lingkup dan urutan bahan pelajaran merupakan salah satu prinsip yang harus dipertimbangkan  dalam suatu kurikulum. Setiap pola kurikulum memiliki memiliki ruang lingkup materi pelajran yang berbeda.Selain cakupan materi, yang perlu diperhatikan adalah organnisasi kurikulum, yaitu bagaimana urutan materi tersebut harus disajikan dalam kurikulum.
Kontinuitas kurikulum dalam organisasi kurikulumperlu diperhatikan terutama berkaitan dengan substansi bahan yagn diplejari siswa, jangan sampai terjadi pengulangan yang tidak perlu atau loncatan-loncatan materi yang tidak jelas kaitan dan gradasi tingkat kesukarannya.
Keseimbangan bahan pelajaran perlu dipertimbangkan dalam organisasi kurikulum. Ada dua aspek yang harus diperhatikan, 1) keseimbangan substansi bahan atau isi kurikuklum, 2)keseimbangan yang berkaitan dengan cara atau proses belajar.
Pengkategorian sistem organisasi kurikulum, 1) organisasi kurikulum berdasarkan mata pelajaran, 2) organisasi kurikulum terintegrasi.
a.      Organisasi Kurikulum Berdasarkan Mata Pelajaran (Subject Curriuculum)
Dibedakan atas empat pola, yaitu: Separated Subject Curriculum, Correlated Curriculum, Broadfields Curriculum, dan Integrated Curriculum.

1)      Mata Pelajaran Terpisah (Separated Subject Curriculum)
Mata  pelajaran yang terpisah-pisah bertujuan agar generasi muda mengenal hasil-hasil kebudayaan dan pengetahuan umat manusia yang telah dikumpulkan secara berabad-abad, agar mereka tidak perlu mencari dan menemukan kembali dengan apa yang telah diperoleh dari generasi terdahulu (Nasution, 1986).
Dalam proses pembelajarannya, bentuk kurikulum ini cenderung kurang mempehatikan aktivitas siswa, karena yang dianggap penting adalah penyampaian sejumlah informasi sebagai bahan pelajaran dapat diterima dan dihafal oleh siswa.
Secara fungsional, bentuk kurikulum ini memiliki kekurangan dan kelebihan.Kekurangan  pola mata pelajaran yang terpisah-pisah, yaitu:
a)      Bahan pelajran diberikan atau dipelajari secara terpisah-pisah, tidak menggambarkan adanya hubungan antra materi satu dengan materi yang lainnya.
b)      Bahan pelajaran yang diberikan atau yang dipelajari siswa tidak bersifat aktual.
c)      Proses belajar lebih mengutamakan aktivitas guru sedangkan siswa cenderung pasif.
d)     Bahan pelajaran tidak berdasarkan pada aspek permasalahan sosial yang dihadapi siswa maupun kebutuhan masyarakat.
e)      Bahan pelajaran merupakan informasi maupun pengetahuan dari masa lalu yang terlepas dengan kejadian masa sekarang dan masa yang akan datang.
f)       Proses dan bahan pelajaran sangat kurang memperhatikan bakat, minat, dan kebutuhan siswa.
Kelebihan pola mata pelajaran terpisah-pisah adalah:
a)      Bahan pelajaran disusun secara sistematis, logis, sederhana, dan mudah dipelajari.
b)       Dapat dilaksankan untuk mewariskan nilai-nilai dan budaya terdahulu.
c)      Kurikulum ini mudah diubah dan dikembangkan.
d)     Bentuk kurikulum ini mudah dipola, dibentuk, didesain, bahkan mudah untuk diperluas dan dipersempit sehingga mudah disesuaikan dengan waktu yang ada.
2) Mata Pelajaran Terhubung (Correlated Curriculum)
Pola kurikulum korelasi yaitu pola organisasi isi kurikulum yang menghubungkan pembahasan suatu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, atau satu pokok bahasan dengan pokok bahasan lainnya.Materi kurikulum yang terlepas-lepas diupayakan dihubungkan dengan materi kurikulum atau mata pelajaran yang sejenis atau relevan dengan tujuan pembelajaran sehingga dapat memperkaya wawasan siswa.
Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam pola kurikulum jenis ini. Kekurangannya adalah :
a.       Bahan pelajaran yang diberikan kurang sistematis serta kurang begitu mendalam.
b.      Kurikulum ini kurang menggunakan bahan pelajaran yang aktual yang langsung berhubungan dengan kehidupan nyata siswa.
c.       Kurikulum ini kurang memperhatikan bakat, minat dan kebutuhan siswa.
d.      Apabila prinsip penggabungan belum dipahami kemungkinan bahan pelajaran yang disampaikan terlampau abstrak.

Sedangkan kelebihan pola mata pelajaran terhubung (correlated curriculum) adalah :
a.       Ada keterhubungan antar materi pelajaran walau sebatas beberapa mata pelajaran.
b.      Memberikan wawasan yang lebih luas dalam lingkup satu bidang studi.
c.       Menambah minat siswa untu mempelajari mata pelajaran yang terkorelasi
Bahan pelajaran dalam organisasi kurikulum ini memungkinkan substansi pembelajaran bisa lebih bermakna dan mendalam dibandingkan dengan mata pelajaran yang terpisah-pisah.
3) Fusi Mata Pelajaran
Fusi mata pelajaran atau dikenal dengan istilah broadfiels curriculum adalah jenis organisasi kurikulum yang menghapuskan batas-batas mata pelajaran dan menyatukan mata pelajaran yang memiliki hubungan erat dalam satu kesatuan. Tipe organisasi ini mula pertama dikemukakan oleh Phenik, tujuannya adalah agar para pendidik mengerti jenis-jenis arti perkembangan kebudayaan yang efektif, manfaat yang didapat dari berbagai ragam disiplin ilmu, dan upaya mendidik anak agar menghasilkan anak yang civilized (Idi, 1999:29).
Beberapa disiplin ilmu sejenis disatukan dalam satu mata pelajaran tertentu. Nama payung mata pelajaran ini bisa beragam, namun dalam sistem pendidikan formal atau persekolahan, kita mengenal, nama mata pelajaran :
a.       Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil peleburan dari Ilmu Fisika, Ilmu Hayat, Ilmu Kimia dan Ilmu Kesehatan.
b.      Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan hasil peleburan Ilmu Bumi, Sejarah,
Civic, Hkum, Geografi, Ekonomi, dll.
c.       Bahasa, hasil peleburan Membaca, Menulis, Menyimak, Mengarang dan Pengetahuan Bahasa.
d.      Matematika, hasil peleburan dari Berhitung, Aljabar, Ilmu Ukur Sudut, Bidang, Ruang dan Statistik
e.       Kesenian, hasil peleburan dari Seni Tari, Seni Suara, Seni Klasik, Seni Pahat dan Drama
Model Organisasi ini memilki keunggulan, diantaranya adalah mata pelajaran akan semakin dirasakan kegunaannya, sehingga memungkinkan pengadaan mata pelajaran yang kaya akan pengertian dan mementingkan prinsip dasar generalisasi. Sementara kelemahannya adalah hanya memberikan pengetahuan secara sketsa, abstrak, kurang logis dari suatu mata pelajaran (Soetopo dan Soemanto dalam Idi 1999: 29-30) 

4) Kurikulum Terpadu (Integrated Learning)

Kurikulum ini memandang bahwa dalam suatu pokok bahasan harus terpadu (integrated) secara menyeluruh. Keterpaduan ini dapat dicapai melalui pemusatan pelajaran pada satu masalah tertentu dengan alternative pemecahan melalui berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran yang diperlukan, sehingga batas-batas antar mata pelajran menjadi ditiadakan.Kurikulum ini memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar secara kelompok atau individu lebih memberdayakan masyarakat sebagai sumber belajar, memungkinkan pembelajaran bersifat individu terpenuhi, serta dapat melibatkan siswa dalam program pembelajaran. Bahan pelajaran dalam kurikulum ini akan bermanfaat secara fungsional, dalam pembelajaran akan dapat meningkatkan kemampuan siswa baik secara proses maupun produk, selalu actual sesuai perkembangan dan kebutuhan masyarakat maupun siswa sebagai individu yang utuh, sehingga bahan pelajaran yang dipelajari selalu sesuai dengan bakat, minat dan potensi siswa.
Ada beberapa kekurangan dan kelebihan dalam kurikulum bentuk ini. Kekurangan organisasi kurikulum ini, anatar lain :
a.       Kurikulum dibuat oleh guru dan siswa sehingga memerlukan kesiapan dan kemampuan guru secara khusus dalam pegembangan kurikulum seperti ini.
b.      Bahan pelajaran tidak disusun secara logis dan sistematis.
c.       Bahan pelajaran tidak bersifat sederhana
d.      Dapat memungkinkan kemampuan yang dicapai siswa akan berbeda secara mencolok.
e.       Kemungkinan akan memerukan biaya, waktu dan tenaga yang banyak.
Adapun kelebihan dari kurikulum ini adalah :
a.    Mempelajari bahan pelajaran melalui pemecahan masalah dengan cara memadukan beberapa mata pelajaran secara menyeluruh dalam menyelesaikan suatu topik atau permasalahan.
b.    Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan bakat, minat dan potensi yang dimilkinya secara individu.
c.    Memberikan kesempatan pada siswa untuk menyelesaikan permasalahan secara komprehensif dan dapat mengembangkan belajar secara bekerja sama (cooperative).
d.   Mempraktekan nilai-nilai demokrasi dalam pembelajaran.
e.    Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara maksimal.
f.     Memberikan kepada siswa untuk belajar berdasarkan pada pengalaman langsung.
g.    Dapat membantu meningkatkan hubungan antara sekolah dengan masyarakat.
h.    Dapat menghilangkan batas-batas yang terdapat pada pola kurikulum yang lain.
Beberapa bentuk organisasi kurikulum dalam kategori ini, diantaranya : Kurikulum Inti (Core Curriculum), Social Function, dan Persitent Situation, serta Experience atau Activity Curriculum.

a.      Kurikulum Inti (Core Curriculum)
Kurikulum Inti merupakan bagian dari kurikulum terpadu (integrated curriculum). Beberapa karakteristik yang dapat dikaji dalam kurikulum ini adalah : 1) kurikulum ini direncanakan secara berkelanjutan, selalu berkaitan, dan direncanakan secara terus-menerus; 2) isi kurikulum yang dikembangkan merupakan rangkaian dari pengalaman yang saling bekaitan; 3) isi kurikulum selalu mengambil atas dasar masalah maupun problema yang dihadapi secara aktua; 4) isi kurikulum mengambil atau mengangkat subtansi yang bersifat pribadi maupun social; 5) isi kurikulum ini difokuskan berlaku untuk semua siswa, sehingga kurikulum ini sebagai kurikulum umum tetapi substansinya bersifat problema, pribadi, social dan pengalaman yang terpadu.
b. Social Functions dan Persistent Situation
            Social functions merupakan bagian dari kurikulum terpadu.Kurikulum ini didasarkan atas analisis kegiatan-kegiatan manusia dalam masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat, diantaranya:
1)      Memelihara dan menjaga keamanan masyarakat;
2)      Perlindungan dan pelestarian hidup, kekayaan dan sumber daya alam;
3)      Komunikasi dan teranportasi;
4)      Kegiatan rekreasi;
5)      Produksi dan distribusi barang dan jasa;
6)      Ekspresi rasa keindahan;
7)      Kegiatan pendidikan;
8)      Integrasi kepribadian;
9)      Konsumsi benda dan jasa.
Dalam social functions ini dapat diangkat berbagai kegiatan-kegiatan manusia yang dapat dijadikan sebagai topi pembelajaran. Kegiatan-kegiatan manusia di masyarakat setiap saat akan berubah sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga substansi social functions bersifat dinamis.
Sebagai modifikasi dari social functions adalah persistent life situation, kajian substansi dalam kurikulum ini lebih mendalam dan terarah. Dalam persistent life situations, karakteristiknya adalah situasi yang diangkat senantiasa yang dihadapi manusia dalam hidupnya, masa lalu, saat ini, dan masa yanga akan datang. Secara umum ada 3 kelompok situasi yang akan dihadapi manusia, yaitu:
1)      Situasi-situasi mengenai perkembangan individu manusia, diantaranya:
a)      Kesehatan. Manusia perlu memenuhi kebutuhan fisiologis, emosional, sosial sampai pada pencegahan penyakit.
b)      Intelektual. Menusia memerlukan kemampuan untuk mengemukakan pendapat, memahami pikiran orang lain, berhitung, dan bekerja yang efektif.
c)      Moral. Kebebasan individu, tanggung jawab atas diri dan orang lain.
d)     Keindahan. Mencari sumbernya pada  diri sendiri maupun dalam lingkungan.
2)      Situasi untuk perkembangan partipasi sosial, yaitu:
a)      Hubungan antar pribadi. Mengusahakan hubungan sosial dan hubungan kerja yang baik dengan sesama.
b)      Kenggotaan kelompok. Memasuki lingkungan kelompok, partispasi, dan kepemimpinan dalam kelompok.
c)      Hubungan antar kelompok. Kerjasama dengan kelompok rasional, agama dan nasional, kelompok sosio-emosional.
3)      Situasi-situasi untuk perkembangan kemampuan menghadapi faktor-faktor ekonomi dan daya-daya lingkungan.
a)      Bersifat alamiah. Gejala fisik tanaman, binatang, serangga, daya fisik, dan kimiawi.
b)      Sumber teknologi. Penggunaan serta pengembangan teknologi.
c)      Struktur dan daya-daya sosial ekonomi. Mencari nafkah, memperoleh barang-barang jasa, mengusahakan kesejahteraan sosia, mempengruhi pendapat umum, pertisipasi dalam pemerintahan local maupun nasional (Nasution, 1988).
Dalam kurikulum 2004 mulai dikembangkan pendidikan yang berorientasiu pada kecakapanb hidup (life skills).Dasar pemikirannya adalah bahwa kualitas sumber daya menusia perlu ditingkatkan melalui pendidikan, terutama pendidikan yang dapat meningkatkan kualitas berpikir, kalbu, dan fisik serta dapat memilih kegiatan-kegiatan kehidupan yang seharusnya dilakukan siswa sebagai manusia.Kecakapan hidup adalah pengetahuan yang luas dan interaksi kecakapan yang diperkirakan merupakan kebutuhan esensial bagi manusia dewasa untuk dapat hidup secara mandiri di masyarakat. Pendidikan yang berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup (life skills) merupakan bagian dalam pengembangan kurikulum terpadu, karena pengembangan kecakapan hidup seharusnya tidak berdiri sendiri melainkan terintegrasi dengan disiplin ilmu atau mata pelajaran yang lain. Supaya tidak menjadi dangkal maka substansi pengembangan kecakapan hidup harus terpadu dengan mata pelajaran yang sesuai dengan struktur kurikulum disekolah tersebut, bukan sekedar pendidikan keterampilan atau vokasional dasar yang terpisah-pisah.

c. Experience atau Activity Curriculum
            Experience curriculum sering disebut juga dengan activity curriculum.Kurikulum ini cenderung mengutamakan kegiatan-kegiatan atau pengalaman-pengalaman siswa dalam rangka membentuk kemampuan yang terintegrasi dengan lingkungan maupun dengan potensi siswa.Kurikulum ini pada hakikatnya menekankan pada pentingnya siswa berbuat dan melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya vokasional, tetapi tidak meniadakan aspek intelektual atau akademik siswa.Salah satu karakteristik dari kurikulum ini adalah untuk memberikan pendidikan keterampilan atau kejujuran tetapi didalamnya tercakup pengembangan kemampuan intelektual dan akademik yang berkaitan dengan
aspek keterampilan dan kejujuran tersebut.Dengan demikian siswa belajar tidak hanya bersifat manual tetapi bersifat reaktif dan prolematik sesuai dengan keterampilan yang sedang dipelajarinya. Kurikulum terpadu dipelopori oleh John Dewey, yang intinya bahwa pemebelajaran harus secara learning by doing dan problem based learning. Konsep-konsep tersebut pada umumnya sudah diterapkan pada activity curriculum, model kurikulum ini sering juga disebut pembelajaran proyek.
            Ada empat tipe pembelajaran proyek yang dapat dikembangkan dalam activity curriculum, diantarnya:
a)      Contruction on creative project. Pembelajarn ini bertujuan untuk mengembangkan ide-ide atau merealisasikan suatu ide dalam suatu bentuk tertentu, misalnya: membuat paying, membuat tas dengan mode tertentu, menulis gagasan atau surat, atau menciptakan permainan.
b)      Appreciation on enjoyment project. Pembelajaran ini bertujuan menikmati pengelaman-pengalaman dalam bentuk apresiasi atau estetis (estetika), misalnya menyaksikan permainan drama, mendengarkan music, menghayati gambar hasil seni, mendengarkan cerita, atau membaca karangan.
c)      The problem project. Pembelajaran ini bertujuan untuk memecahkan masalah yang bersifat intelektual tetapi ada substansi keterampilannya (vokasional), misalnya bagaimana penanggulangan flu burung? Permasalahan tersebut memerlukan jawaban yang intelektual, tetapi tidak menutup kemungkinan dibahas tentang bagaimana cara membersihkan kandang unggas dengan cara simulasi.
d)     The drill or specific project. Pembelajaran ini bertujuan memperoleh beberapa item atau tingkat keterampilan, misalnya bagaimana mengoprasikan kamera digita, bagaimana cara menulis makalah yang benar dan sebagainya.
Beberapa keuntungan yang akan dirasakan dalam pembelajaran jenis ini, diantaranya:
a.       Siswa akan berpartisispasi sepenuhnya dalam situasi belajar karena siswa akan mengalami dan melakukan secara langsung berbagai kegiatan yang telah direncanakan.
b.      Pembelajarn ini akan menerapkan berbagai prinsip-prinsip belajar yang dapat mengoptimalkan kemampuan siswa dalam pembelajaran.
c.       Mengandung aspek estetika, intelektual, vokasional, dan kreativitas siswa.
Metode proyek merupakan bagian dari activity curriculum, ada kesamaan dengan sistem pengajaran unit (unit teaching).Pengejaran unit merupakan pengalaman belajar yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya yang berpusat pada sebuah pokok atau permasalahan. Ada dua jenis sumber pembelajaran unit: 1) berpusat pada bahan pelajaran (subject matter), artinya topik atau permasalahan diambil atau diangkat dari topic-topik mata pelajaran; 2) berpusat pada pengalaman (experience atau situation), artinya topic permasalahan diangkat dari situasi lingkungan masyarakat yang dipadukan dengan kebutuhan atau tentang yang dimiliki siswa.
Bentuk pembelajaran unit juga telah digunakan dalam kurikulum 2004, seperti pendekatan terpadu dan pendekatan tematik pada kelas rendah disekolah dasar.Pendekatan pembelajaran terpadu dalam kurikulum integrasi pada dasarnya banyak membantu siswa untuk mengintegrasikan dirinya dengan yang ada didalam maupun diluar diri siswa sehingga bermakna bagi siswa. Aspek individual siswa menjadi dasar yang selalu diperhatikan dalam proses pembelajaran.
Dalam pembelajaran terpadu juga banyak memberikan kesempatan dalam menerapkan nilai-nilai demokrasi dan kerjasama dalama kelompok sehingga akan terbentuk kemampuan sosial dalam pengalaman belajar. Tidak dapat disangkal lagi bahwa pembelajaran ini akan menempatkan siswa sebagai pembelajar yang melakukan aktivitas secara langsung dalam substansi yang dipelajarinya. Namun demikian sebagaimana telah dikemukakan diatas bahwa kurikulum terpadu memiliki kekurangan yang harus diminimalisir supaya tujuan dalam pembelajaran ini dapat dicapai secara efektif.

1 komentar: